Senin, 21 Januari 2013

KPU dan Panwaslu Saling Lempar

Baliho dan gambar pasangan calon bupati yang menyalahi aturan dan masih terapasang di sembarang tempat masih marak di wilayah Tulungagung, namun pihak KPUD Tulungagung dan Panwaslu setempat justru saling lempar tanggungjawab, terkait penertiban baliho-baliho tersebut. Sejumlah baliho dan poster yang menyalahi aturan, seperti dipaku di pohon/ ditempelkan di tiang listrik dan tiang telpon, bahkan ditempel di tempat ibadah dan sekolah masih banyak dijumpai di wilayah Tulungagung. Padahal beberapa waktu lalu, KPU bersama Satpol PP diawasi tim sukses masing-masing pasangan calon bupati dan wakil bupati menertibkan baliho dan poster yang menyalahi aturan, namun penertiban tersebut ternyata tidak tuntas. Saat ini masih banyak dijumpai baliho dan poster yang ditempelkan di pohon, tiang listrik, tempat ibadah dan sekolah sehingga menyalahi aturan, pasangan yang posternya ditempelkan di tempat tersebut bisa dikenakan sanksi oleh Panwaslu. Namun sejauh ini pengawasan dari panwaslu belum maksimal, bahkan antara KPUD dan Panwaslu terkesan saling lempar soal permasalahan ini. M Nyakdin, anggota KPUD Tulungagung Devisi Humas mengatakan, KPU sudah melakukan pengawasan terhadap baliho dan poster yang ada di wilayah Tulungagung, bahkan KPUD sudah meminta Satpol PP untuk melakukan pembersihan pada baliho dan poster yang melanggar aturan. Menurut Nyakdin pelanggaran dalam pemilu ini menjadi ranah Panwaslu Kabupaten Tulungagung. Sementara itu, M Fadiq anggota panwaslu mengatakan, bahwa pihaknya sudah meminta pada tim sukses masing-masing pasangan untuk menertibkan poster dan baliho yang menyalahi aturan tersebut. Bahkan panwaslu juga sudah memberikan peringatan bagi pasangan calon bupati dan wakil bupati yang melanggar ketentuan kampanye. “Yang memiliki kewenangan menertibkan alat peraga kampanye adalah pemerintah daerah, sedangkan Panwaslu hanya mengawasi jalannya Pemilukada,” tegas Fadiq.

KPUD Lakukan Penertiban Baliho dan Poster

Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kabupaten Tulungagung dibantu Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Tim sukses masing-masing pasangan calon Bupati dan calon Wakil Bupati mencopoti baliho dan poster yang melanggar aturan. Baliho dan poster yang menjadi target penurunan KPUD Tulungagung Poster dan Baliho yang dipaku di pohon dan tiang listrik. Anggota KPUD Tulungagung devisi Humas Nyakdin mengatakan, tidak semua poster-poster dan baliho diturunkan, yang diturunkan hanya poster dan baliho yang menyalahi aturan. Sebab banyak poster dan baliho yang dipaku di pohon dapat merusak tanaman tersebut. Selain poster yang ditempel di pohon dan tiang listrik, KPU juga menyeterilkan tempat ibadah dan sekolah dari poster dan baliho. Pencopotan poster dan baliho ini disaksikan langsung oleh tim sukses masing-masing pasangan Cabup dan Cawabup. Dengan disaksikannya oleh tim sukses, maka menghindarkan dari kesalahpahaman antara tim sukses dengan KPU karena poster dan baliho pasangan Cabup dan Cawabup diturunkan. ” Ini tim sukses yang menjadi garda terdepan dalam penurunan baliho dan poster yang menyalahi aturan,” ujar Nyakdin. Sementara itu, Hari Prastijo Kasi Operasi Satpol PP Kabupaten Tulungagung mengatakan, sebenarnya Satpol PP sudah mempersiapan 80 pesonil untuk penurunan baliho dan poster ini, namun akhirnya hanya 20 yang diminta KPU. ” Sudah saya siapkan 80 personil, tp nggak tau kok hanya 20 yang diminta,” ujar Hari Prastijo. Rencananya penurunan baliho dan poster yang menyalahi aturan ini akan dilakukan sampai satu minggu kedepan.

Kamis, 15 Maret 2012

Tas Enteng, dari Kertas Semen



Anda tentu sudah sering melhat tas yang tebuat dari kulit atau bahan imitasi, dan kain namun jarang menjumpai atau melihat tas yang terbuat dari kertas semen. Nah seorang ibu rumah tangga di Sidoarjo mampu menyulap barang bekas tersebut menjadi barang yang memiliki nilai jual tinggi.

Yang menjadi pertanyaan apakah tas ini bisa digunakan untuk membawa barang-barang bawaan seperti buku, alat make up dan lainnya?. Jawabannya tentu saja bisa. Karena tas ini memiliki kekuatan dan ketahanan yang tak kalah bila dibadingkan dengan tas berbahan kulit, imitasi, dan kain.

Apabila kita berbicara soal kertas, bahan ini akan rusak bila terkena air, namun jangan salah untuk tas semen yang di produksi Weny Indrasari ini. Wanita yang tinggal di Perum TAS 2 Blok R3 Nomer 37, Sidoarjo ini mendesain tas tahan bila terkena air. "Untuk memperkenalkan pada calon konsumen, biasanya saya membawa air di ember dan memcelumpkan tas ke air," ujar ibu dua anak tersebut.

Cara membuat tas dari kertas semen ini dengan cara membersihkan kertas semen dari sisa-sisa semen yang masih menempel. Setelah dibersihkan, lalu kertas diikat kecil-kecil dengan karet (teknik batik jumputan) lalu di rebus ke dalam air yang sudah diberi pewarna. Ini dilakukan untuk memberikan warna pada kertas, sehingga menimbulkan warna yang cantik. Bahkan kita dapat menyesuaikan dengan warna keinginan kita. Perebusan kertas ini dilakukan kurang lebih sepuluh menit.

Setelah direbus, kertas diangkat dan dibuka talinya. Setelah itu kertas diangin-anginkan sekitar 15 menit. Setelah kering kertas dapat dijahit. Untuk mempercantik tampilan Ia menambahkan manik-manik agar tas lebih menarik.

Agar tas kerajinan Weny tahan lama, istri Sutiono ini memiliki racikan tersendiri agar tasnya tahan lama. Salah satunya adalah dengan memberikan lem dan fernis pada sentuhan akhir tas yang dibuatnya. Bagi yang ingin mendapatkan racikan rahasia, bisa didapat dangan membelinya. "Soalnya selain tas yang sudah jadi yang kita jual ramuannya ini. Kalau tas kan gampang dicontoh, tapi kalau racikan kan sulit," ungkap wanita berkerudung ini.

Tas buatan Weny-pun desainnya tidak kalah bila dibandingkan dengan model-model tas yang sekarang ini berkembang di pasaran. Bahkan, Weny selalu mengikuti tren yang sedang laris dipasaran, namun tas yang diproduksi perempuan asal Madiun ini masih untuk kaum hawa. Ini dikarenakan wanita lebih mengikuti tren dan modelnya selalu berubah, bila dibandingkan dengan kaum adam.

Berbagai macam tas sudah dibuat oleh weny, seperti tas kantor, tas pinggang, dan dompet. Bahkan tas hasil kerajinannya sudah dikirim beberapa kota lainnya, seperti Mojokerto, Surabaya, dan Jakarta.

Usaha yang dimulai sekitar tahun 2010 saat Ada program Sidoarjo Bersih Hijau (SBH) ini, kini sudah mendapatkan omset sekitar dua juta rupiah perbulannya. Untuk mengembangkan usahanya Weny mengajak beberapa temannya untuk menjadi patner kerja. Weny akan membeli hasil karya patner kerjanya tersebut, sekaligus memasarkan tas-tas dari kertas semen tersebut.

Jumat, 30 September 2011

Kerajinan Sandal Wedoro di Perkembangan Jaman

Sidoarjo memang terkenal dengan industrinya, tidak hanya pabrik-pabrik besar yang berkembang, tapi juga industri rumahnya yang tak lekang oleh perubahan jaman, kerajinan sandal Wedoro salah satunya. Ya Wedoro merupakan salah satu sentra kerajinan sandal di Kabupaten Sidoarjo. Hampir seluruh warga Desa Wedoro menjadi pengrajin sandal, bahkan pengrajin Wedoro pernah mencapai puncak kejayaan pada tahun 1995 an.

Pada saat itu buah karya anak sidoarjo mencapai luar negeri, tidak hanya Asia namun juga Eropa. Namun pada 1998 di negeri ini mengalami krisis Ekonomi yang berdampak, ikut menurunnya jumlah produksi di Wedoro. Ini dikarenakan harga bahan baku yang turut melambung tinggi. Sementara itu harga jual produk Wedoro kalah dibandingkan produk-produk dari China. Hal ini diakui oleh Hasan salah satu pengrajin di Wedoro. "Ini karena upah tenaga di China murah, sehingga barang dari Wedoro kalah bersaing dalam segi harga," ujar pria yang sejak kecil mengeluti usaha sandal ini.

Seiring dengan membaiknya kondisi perekonimian negeri ini, Wedoro kembali ujuk aksi, meski masih berada di pasar-pasar nasional. Setidaknya ini menjadi tanda bahwa kerajinan sandal di Wedoro tetap terjaga. Bahkan dari segi kualitas kerajinan Wedoro tidak kalah, sebab banyak pabrik-pabrik dengan merk terkenalpun memesan sandal dari pengrajin di Wedoro untuk memenuhi kebutuhannya.

Kerajinan Sandal Wedoro di Perkembangan Jaman

Sidoarjo memang terkenal dengan industrinya, tidak hanya pabrik-pabrik besar yang berkembang, tapi juga industri rumahnya yang tak lekang oleh perubahan jaman, kerajinan sandal Wedoro salah satunya. Ya Wedoro merupakan salah satu sentra kerajinan sandal di Kabupaten Sidoarjo. Hampir seluruh warga Desa Wedoro menjadi pengrajin sandal, bahkan pengrajin Wedoro pernah mencapai puncak kejayaan pada tahun 1995 an.

Pada saat itu buah karya anak sidoarjo mencapai luar negeri, tidak hanya Asia namun juga Eropa. Namun pada 1998 di negeri ini mengalami krisis Ekonomi yang berdampak, ikut menurunnya jumlah produksi di Wedoro. Ini dikarenakan harga bahan baku yang turut melambung tinggi. Sementara itu harga jual produk Wedoro kalah dibandingkan produk-produk dari China. Hal ini diakui oleh Hasan salah satu pengrajin di Wedoro. "Ini karena upah tenaga di China murah, sehingga barang dari Wedoro kalah bersaing dalam segi harga," ujar pria yang sejak kecil mengeluti usaha sandal ini.

Seiring dengan membaiknya kondisi perekonimian negeri ini, Wedoro kembali ujuk aksi, meski masih berada di pasar-pasar nasional. Setidaknya ini menjadi tanda bahwa kerajinan sandal di Wedoro tetap terjaga. Bahkan dari segi kualitas kerajinan Wedoro tidak kalah, sebab banyak pabrik-pabrik dengan merk terkenalpun memesan sandal dari pengrajin di Wedoro untuk memenuhi kebutuhannya.

Jumat, 12 Agustus 2011

Jangung Bakar Cara Bertahan Hidup

Asap mengepul, meliuk-liuk tertip angin. Kadang asapnya tebal, namun kadang juga tipis. Ternyata asap ini bersumber dari salah satu pemilik lapak di Pasar Bunga Kayoon. Asap ini diiringi aroma jagung bakar yang khas menusuk hidungku. Apalagi jarak antar lapak hampir tidak ada di pasar ini. Terasa penat memang.
Akan tetapi, hasrat ingin memiliki dan merasakannya jagung juga muncul begitu kuat dan menganggu pikiranku. Terdengar suara letusan letusan kecil dari jagung yang matang saat dibakar semakin membuatku tak berdaya. suara riuh anak-anak kecil mewarnai suasana malam ini, di Pasar Bunga Kayoon, Jumat (12/8).
Aroma seperti ini mulai ada sejak awal puasa tahun ini. Tanpa berfikir panjang aku menghampirinya. Tanpa basa basi kuambil satu jagung yang sudah diolesi mentega dan sambal. Sedap benar pikirku. Tak ada kata dari Ryan yang menyataka bahwa jagung ini pesana orang, justru sebaliknya Dia menawariku dengan jumlah yang lebih banyak. "Berapa By, tiga ya yang pedas?," katanya. "ah dua saja cukup," jawabku saat itu. tapa berfikir panjang kumakan jagung muda ini, bahkan sampai kuulangi.
Ya ini hanya salah satu cara Ryan menyiasati sepinya pendapatannya sebagai penjual bunga dengan berjualan jagung bakar. Apalagi bulan ini bulan puasa, maka pasar kayoonpun seakan ikut puasa, sepi, tak seperti bulan-bulan yang lain, dimana banyak pengatin. Apalagi Ryan harus menghidupi lima anaknya yang masih kecil-kecil. Bahkan anak sulungnya baru duduk di kelas lima SD, dan anak bungsunnya berusia 3,5 tahun. Terbayangkan bagaimana bila tidak ada pemasukan untuk menghidupi kelima anaknya. Ini hanya sebuah cara, bertahan untuk menghidupi keluarga. (oby)

Sabtu, 23 Oktober 2010

PULUHAN PAK PIL KB WARNAI KOPER JAMAAH HAJI

Puluhan pak pil Keluarga Berencana (KB) mewarnai koper bawaan jamaah haji asal Kabupaen Pamekasan. Selain pil KB, puluhan slop rokok dan jamu juga disita oleh pihak penerbangan. Ketentuan ini berlaku baik dari pihak Saudi Arabian Air Lines dan Garuda Air Lines.
Hubungan Masyarakat (Humas) Panitia Penyelengaraan Ibadah Haji (PPIH) Asrama Haji Embarkasi Surabaya (AHES), Nur Yasin Sirothol Mustaqim di AHES, Jumat (22/10) mengatakan, dari tiga kloter yang masuk AHES hari ini dari Kabupaten Pamekasan PPIH menyita puluhan slop rokok, pil KB, Jamu baik jamu rapet wanita dan jamu untuk pegal-pegal, dan minyak goring.
Barang bawaan jamaah haji tahun ini yang diluar ketentuan akan dimusnahkan. Aturan berbada akan diberlakukan agar jamaah haji memiliki efek jerah dan tidak lagi membawa barang bawaan diluar ketentuan. Tahun lalu masih ada toleran dikembalikan ke keluarganya melalui Kantor Kemenag kabupaten/kota se tempat, untuk tahun ini akan kita musnahkan.
Sudah menjadi kesepakatan rapat kordinasi PPIH, pemusnaan akan dilaksanakan setiap akhir kloter 15, kloter 30 dan seterusnya. Mudah-maudahan dengan ketegasan petugas benar-benar akan membuat jamaah jerah tidak main-main dengan barang bawaannya.
Rencananya, Sabtu (23/10) besok pada pukul 10.00 PPIH akan memusnahkan barang sitaan jamaah haji. Pemusnahan ini akan dihadiri pihak kepolisian dan kejaksaan sebagai saksi.
Dari pantauan Jatim Newsroom (JNR) dari kloter 29 ada 34 jamaah yang membawa barang-barang diluar ketentuan PPIH. Sedangkan dari kloter 30 ada sepuluh jamaah yang membawa barang bawaan diluar ketentuan.
”Meski sudah dilakukan sosialisasi, namun masih ada saja jamaah yang melanggar. Untuk memberikan efek jerah maka akan dimusnahkan,” katanya.
Ada jamaah yang merupakan pasangan suami istri, yakni Suhairiyah dan Abdul Hamid yang kopernya penuh dengan barang sitaan. Koper Suhairiyah membawa 16 slop rokok, 10 pak jamu Madura. Sedangkan Abdul Hamid membawa 21 slop rokok dan 20 pak jamu. Menurut keterangan Suhairiyah dan Abdul barang ini merupakan titipan tetangga, untuk diberikan saudara di Arab Suadi.
Sedangkan jamaah yang membawa pil KB, yakni Abdul Latief dan Suhan. Abdul Latief membawa enam dus obat KB dan Suhan tiga dus pil KB.
Sebelumnya, PPIH juga menyita barang bawaan jamaah kloter 13 asal Surabaya masuk asrama haji Sabtu (16/10), ada beberapa jamaah yang membawa rokok dalam jumlah yang berlebihan. Bahkan ada salah seorang jamaah yang membawa rokok sampai 20 slop. Sedangkan kloter 15 dan 16 asal Sidoarjo tidak ada yang membawa rokok yang berlebihan. Tapi ada yang membawa minyak goreng dalam kemasan botol 1 liter. (oby)